Kamis, 29 Oktober 2015


God Of Anubis




Anubis merupakan dewa berkepala serigala (anjing) dan bertubuh manusia yang berhubungan dengan kematian dan akhirat. Anubis (Yunani Kuno: Ἄνουβις) terkait dengan mumifikasi dan alam baka dalam mitologi Mesir kuno. Ritual kepada Anubis dipakai untuk mengawasi prosedur mumifikasi dan dianggap sebagai dewa yang paling penting di alam kematian.
Mitologi 
Dalam bahasa Mesir kuno, Anubis dikenal sebagai Inpu/Anpu (Dibaca : Anupu, Ienpw, dll). Penemuan tertua menyebut Anubis dalam teks Kerajaan Piramida tertua, dimana ia dikaitkan dengan pemakaman Firaun. Dia dihubungkan dengan kekerasan seorang raja pada masa itu. Saat ini, Anubis merupakan dewa yang paling penting dari kematian, akan tetapi dia diganti pada masa Kerajaan Pertengahan oleh Osiris.
Sebagai Dewa, Anubis dihormati dalam melindungi orang yang meninggal dan membawa mereka ke dunia akhirat. Dia digambarkan sebagai setengah serigala, setengah manusia. Beberapa gambaran menunjukkan, Anubis sebagai serigala dengan cambuk di tangan yang siap menghukum orang yang berdosa atau melanggar hukum Fir'aun. Kebanyakan Mumi yang ditemukan mengenakan topeng serigala adalah sebagai penghormatan terhadap Dewa Anubis. 
Anubis sering digambarkan berkulit hitam untuk menggambarkan tanah hitam yang subur di Lembah Nil dan di atas gunung. Dewa Anubis kuno ini melambangkan gambaran kehidupan setelah kematian dan kelahiran kembali.
Dalam setiap upacara pembalseman orang yang sudah meninggal, Anubis digambarkan menghadiri mumifikasi dan duduk di atas kuburan. Anubis juga diyakini oleh beberapa penganutnya sebagai dewa dunia bawah. Dalam bentuk ini, ia digambarkan bersama istrinya, dewi Anput, dan putrinya, dewi Kebechet.
  
Seperti kebanyakan dewa Mesir kuno pada umumnya, Anubis diasumsikan memiliki peran yang berbeda dalam berbagai konteks. Tidak ada prosesi publik di Mesir kala itu yang akan dilakukan, tanpa Anubis berbaris di kepala.
 Dalam agama mesir kuno, Anubis dipuja dan memiliki berbagai peran sebagai :

* Pemilik timbangan keadilan
* Penguasa Ammit, yang memangsa jiwa-jiwa jahat
* Celestial psychopomp
* Panduan dan pelindung roh
* Dewa kuburan
* Pengawas misteriDalam beberapa pahatan dalam piramid, terdapat pahatan 
Mata Anubis, yang merupakan simbol dari kekuasaan dan kekuatan baru yang ditemukan. Doa untuk Anubis masih terlihat pada makam kuno di Mesir. Dan masih ada beberapa penduduk Mesir yang menganut agama mesir kuno dan menyembah Anubis. 
Sunday, June 27, 2010

Legenda Kraken - Sang penguasa lautan

Mungkin tidak ada monster legendaris yang lebih mengerikan dibandingkan dengan Kraken, penguasa lautan yang membuat para pelaut bergidik ketakutan. Apa yang menarik dari legenda Kraken adalah adanya kemungkinan kalau legenda ini mungkin memang berdasarkan pada sesuatu yang nyata.

Kraken adalah seekor monster yang digambarkan sebagai makhluk raksasa yang berdiam di lautan wilayah Islandia dan Norwegia. Makhluk ini disebut sering menyerang kapal yang lewat dengan cara menggulungnya dengan tentakel raksasanya dan menariknya ke bawah.

Kata Kraken sendiri berasal dari Kata "Krake" dari bahasa Skandinavia yang artinya merujuk kepada hewan yang tidak sehat atau sesuatu yang aneh. Kata ini masih digunakan di dalam bahasa jerman modern untuk merujuk kepada Gurita.

Begitu populernya makhluk ini sampai-sampai ia sering disinggung di dalam film-film populer seperti Pirates of the Caribbean atau Clash of The Titans. Jika ada makhluk raksasa penguasa lautan, maka Krakenlah namanya.

Karakter Kraken
Kita mungkin mengira Kraken hanyalah sebuah bagian dari dongeng, namun sebenarnya tidak demikian. Sebutan Kraken pertama kali muncul dalam buku Systema Naturae yang ditulis Carolus Linnaeus pada tahun 1735.

Mr. Linnaeus adalah orang yang pertama kali mengklasifikasi makhluk hidup ke dalam golongan-golongannya. Dalam bukunya itu, ia mengklasifikasikan Kraken ke dalam golongan Chepalopoda dengan nama latin Microcosmus. Jadi, boleh dibilang kalau Kraken memiliki tempat di dalam sains modern.

Erik Ludvigsen Pontopiddan, Uskup Bergen yang juga seorang naturalis, pernah menulis di dalam bukunya Natural History of Norway yang terbit tahun 1752 kalau Kraken "tidak bisa disangkal, adalah monster laut terbesar yang pernah dikenal".

Menurut Pontopiddan, Kraken memiliki ukuran sebesar sebuah pulau yang terapung dan memiliki tentakel seperti bintang laut. Ia juga menyebutkan kalau makhluk ini bisa menggulung kapal yang lewat dengan tentakelnya dan menariknya ke dasar lautan. Namun, menurut Pontopiddan, bahaya terutama dari Kraken adalah riak air yang dashyat ketika ia menyelam ke dalam laut. Riak itu bisa menenggelamkan kapal yang ada di dekatnya.

Menariknya, selain menggambarkan Kraken sebagai makhluk yang berbahaya, Pontopiddan juga menulis mengenai sisi lain dari makhluk misterius ini. Ia menyebutkan kalau ikan-ikan di laut suka berada di dekat Kraken. Karena itu juga, para nelayan Norwegia yang mengetahui hal ini suka mengambil risiko untuk menangkap ikan dengan membawa kapalnya hingga berada tepat di atas Kraken.

Jika mereka pulang dengan membawa hasil tangkapan yang banyak, para penduduk desa tahu kalau para nelayan tersebut pastilah telah menangkap ikan tepat di atas Kraken.

Sejak lama, makhluk ini hanya dianggap sebagai bagian dari Mitologi kuno yang setara dengan sebuah dongeng. Namun ketika sisa-sisa bangkai monster ini terdampar di pantai Albaek, Denmark, Pada tahun 1853, para ilmuwan mulai menyadari kalau legenda mengenai Kraken mungkin memang berdasarkan pada sesuatu yang nyata, yaitu cumi-cumi raksasa (Giant Squid), cumi-cumi kolosal (Colossal Squid) atau Gurita raksasa (Giant Octopus).

Seberapa besarkan seekor cumi atau gurita bisa bertumbuh?

Benarkan mereka bisa menyerang sebuah kapal besar seperti yang digambarkan di film-film?

Penampakan Signifikan
Pada tahun 1801, Pierre Denys de Montfort yang menyelidiki subjek mengenai Kraken menemukan kalau di Kapel St.Thomas di St.Malo, Brittany, Perancis, ada sebuah lukisan yang menggambarkan seekor gurita raksasa sedang menyerang sebuah kapal dengan cara menggulungnya dengan tentakelnya. Insiden yang tergambar dalam lukisan tersebut ternyata berdasarkan pada peristiwa nyata.

Dikisahkan kalau kapal tersebut adalah kapal Norwegia yang sedang berada di lepas pantai Angola. Ketika mendapatkan serangan tak terduga tersebut, para pelaut di atas kapal lalu membuat sebuah kaul untuk St.Thomas yaitu jika mereka dapat terlepas dari bahaya ini, mereka akan melakukan perjalanan ziarah.

Para awak kapal kemudian mengambil kapak dan mulai melawan monster itu dengan memotong tentakel-tentakelnya. Monster itupun pergi. Sebagai pemenuhan atas kaul itu, para awak kemudian mengunjungi Kapel St.Thomas di Britanny dan menggantung lukisan itu sebagai ilustrasi atas peristiwa yang menimpa mereka.

Sayangnya, peristiwa yang menimpa para pelaut itu tidak diketahui persis tahun terjadinya. Namun, paling tidak, penyerangan monster raksasa terhadap sebuah kapal tidak bisa dibilang sebagai mitos semata.

Selain kisah lukisan di Kapel St.Thomas, Mr.Monfort juga menceritakan perjumpaan lain dengan makhluk serupa cumi atau gurita raksasa yang dialami oleh kapten Jean-Magnus Dens dari Denmark yang bertemu dengan makhluk itu juga di lepas pantai Angola. Makhluk raksasa itu menyerang kapal mereka dan bahkan berhasil membunuh tiga awaknya.

Para awak kapal yang lain tidak tinggal diam dan segera mengambil meriam dan menembakkannya ke monster itu berulang-ulang hingga ia menghilang ke dalam lautan.

Kapten Dens memperkirakan monster itu memiliki panjang 11 meter.

Kisah lain terjadi pada tanggal 30 November 1861. Ketika sedang berlayar di kepulauan Canary, para awak kapal Perancis, Alencton, menyaksikan seekor monster laut raksasa berenang tidak jauh dari kapal. Para pelaut segera menyiapkan peluru dan mortir yang kemudian ditembakkannya ke arah monster itu.

Monster yang ketakutan dengan segera berenang menjauh. Namun, kapal Alencton segera diarahkan untuk mengejarnya. Ketika mereka berhasil mendekatinya, garpu-garpu besi segera dihujamkan ke tubuh monster itu dan jaring segera dilemparkan. Ketika para awak mengangkat jaring itu, tubuh monster itu patah dan hancur yang kemudian segera jatuh ke dalam air dengan menyisakan hanya sebagian dari tentakelnya.

Ketika kapal itu mendarat dan tentakel itu diperlihatkan kepada komunitas ilmuwan, mereka sepakat kalau para awak kapal mungkin telah menyaksikan seekor cumi raksasa dengan panjang sekitar 8 meter.

Pada bulan Oktober 1873, seorang nelayan bernama Theophile Piccot dan anaknya berhasil menemukan tentakel cumi raksasa di Newfoundland. Setelah diukur, para peneliti menyimpulkan kalau hewan itu kemungkinan memiliki panjang hingga 11 meter.

Pada tahun 1924, Frank T.Bullen menerbitkan sebuah buku yang berjudul The Cruise of the Chacalot. Dalam buku ini, Bullen menceritakan sebuah kisah luar biasa yang disebut terjadi pada tahun 1875. Kisah ini membuat Kraken mendapatkan musuh abadinya, yaitu Paus Penyembur (Sperm Whale).

Menurut Bullen, pada tahun 1875 ia sedang berada di sebuah kapal yang sedang berlayar di selat Malaka. Ketika malam bulan purnama, ia melihat ada sebuah riakan besar di air.
"Ada gerakan besar di dalam laut saat purnama. Aku meraih teropong malam yang selalu siap di gantungannya. Aku melihat seekor paus penyembur besar sedang terlibat perang hebat dengan seekor cumi-cumi yang memiliki tubuh hampir sebesar paus itu. Kepala paus itu terlihat lincah seperti tangan saja layaknya. Paus itu terlihat sedang menggigit tentakel cumi itu dengan sistematis. Di samping kepalanya yang hitam, juga terlihat kepala cumi yang besar. Mengerikan, aku tidak pernah membayangkan ada cumi dengan kepala sebesar itu."
Mendengar kesaksian Bullen, kita mungkin tergoda untuk mengatakan kalau ia membesar-besarkan atau mungkin mengarangnya saja. Namun, pada Oktober 2009, komunitas ilmuwan menyadari kalau kisah yang diceritakan Bullen mungkin memang bukan sekedar cerita fiksi. Cumi raksasa memang bermusuhan dengan Paus Penyembur.

Di wilayah perairan di pulau Bonin di Jepang, para peneliti kelautan berhasil mendapatkan foto-foto langka yang memperlihatkan seekor paus penyembur sedang menyantap seekor cumi raksasa yang diperkirakan memiliki panjang 9 meter.


Dendam lama tidak pernah berakhir.

Giant Squid, Colossal Squid dan Giant Octopus
Sekarang, mari kita sedikit mengenal lebih jauh tiga teman raksasa kita yang mungkin telah memicu legenda Kraken. Saya akan mulai dari Giant Squid atau Cumi raksasa.

Giant Squid atau Cumi-cumi raksasa
Giant Squid atau cumi-cumi raksasa yang berasal dari genus Architeuthis ini memiliki 8 spesies dan diketahui bisa memiliki panjang hingga 13 meter bagi yang betina dan 10 meter untuk yang jantan. Ukuran ini dihitung dari sirip caudal hingga ujung tentakelnya. Namun, ukuran cumi ini bisa jadi lebih besar daripada yang diperkirakan.

Pada tahun 1880, potongan tentakel ditemukan di Selandia Baru dan diperkirakan merupakan milik dari cumi raksasa yang memiliki panjang 18 meter. Ukuran yang sangat luar biasa!


Ide kalau seekor cumi raksasa bisa menenggelamkan sebuah kapal mungkin terdengar mengada-ngada pada zaman ini. Namun, pada abad pertengahan, ukuran kapal tidak sebesar yang kita miliki sekarang. Contohnya, kapal Columbus yang bernama Pinta hanya memiliki panjang 18 meter. Sebuah cumi sepanjang 10-15 meter sudah bisa dipastikan dapat menyerang dan menenggelamkan kapal ini dengan mudah.


Perilaku giant Squid ini hampir tidak pernah dikenal sebelumnya hingga pada tahun 2004 ketika para ilmuwan Jepang berhasil mendapatkan 556 foto makhluk ini dalam keadaan hidup. Cumi-cumi tersebut terperangkap dalam sebuah jebakan yang dibuat. Ketika ia berhasil lolos, salah satu tentakelnya yang memiliki panjang 5,5 meter putus. Dari panjang ini, para ilmuwan tersebut memperkirakan kalau makhluk itu memiliki panjang 8 meter.

Colossal Squid atau Cumi Kolosal
Apabila kita mengira Cumi raksasa sudah memiliki ukuran yang luar biasa, maka, perkenalkan makhluk yang satu ini, Colossal Squid atau Cumi kolosal.

Makhluk ini memiliki nama latin Mesonychoteuthis hamiltoni dan para ilmuwan percaya kalau makhluk ini bisa bertumbuh hingga paling tidak memiliki panjang 14 meter. Ini membuatnya menjadi hewan invertebrata terpanjang di dunia. Walaupun demikian, para ilmuwan tidak bisa memastikan hingga seberapa panjang hewan ini bisa bertumbuh.

Mengenai Colossal Squid, Dr.Steve O'Shea, ahli cumi dari Auckland University berkata:
"Sekarang kita tahu kalau makhluk ini memiliki ukuran yang lebih besar dibanding Giant Squid. Giant Squid bukan lagi cumi terbesar di luar sana. Sekarang kita memiliki sesuatu yang lebih besar. Bahkan bukan cuma sekedar besar, tetapi benar-benar jauh lebih besar."


Colossal Squid di foto di atas ditangkap di Laut Ross dan memiliki panjang mantel 2,5 meter. Ukuran ini termasuk luar biasa karena Giant Squid terbesar yang diketahui hanya memiliki panjang mantel 2,25 meter. Lagipula, Colossal Squid di atas dipercaya masih dapat bertambah panjang hingga mencapai ukuran yang jauh lebih besar.

Jika ada Kraken di luar sana, maka bisa dipastikan kalau Colossal Squid adalah tersangka paling utamanya.

Lalu, apa bedanya Giant Squid dan Colossal Squid?

Giant Squid hanya memiliki tentakel yang memiliki lubang penghisap dan gigi-gigi kecil, sedangkan Colossal Squid memiliki tentakel yang juga dilengkapi dengan kait yang tajam. Beberapa kait bahkan memiliki 3 ujung.

Selain dua jenis Cumi-cumi di atas, makhluk yang satu ini juga memiliki tentakel dan bisa bertumbuh dalam ukuran yang luar biasa, yaitu Giant Octopus.

Giant Octopus atau Gurita Raksasa
Giant Octopus atau gurita raksasa bisa bertumbuh hingga memiliki panjang 9 meter. Panjang ini cukup membuatnya menjadi monster yang ditakuti oleh para pelaut. Makhluk inilah yang dipercaya Monfort sebagai monster yang menyerang para pelaut Norwegia di lepas pantai Angola yang lukisannya tergantung di Kapel St.Thomas.

Bangkai ini terdampar di pantai St.Augustine, Florida tahun 1896. Dipercaya sebagai Giant Octopus



Pada masa kini, teori mengenai Cumi atau Gurita raksasa dianggap sebagai penjelasan yang paling masuk akal mengenai legenda Kraken.

Jika kita beranggapan kalau legenda Eropa yang mengatakan kalau Kraken memiliki ukuran sebesar sebuah pulau sebagai "membesar-besarkan", maka mungkin misteri Kraken memang sudah terpecahkan.

Rabu, 28 Oktober 2015

Air Terjun Niagara—Sebuah Pengalaman yang Menakjubkan
BELUM lama ini, saya berkesempatan untuk menyaksikan Air Terjun Niagara dari jarak yang sangat dekat. Itu sungguh pengalaman yang menakjubkan bagi saya. Saya dan teman-teman mengunjungi Air Terjun Horseshoe (Tapal Kuda) di sisi Kanada, yang dinamakan demikian karena bentuknya. Saya sudah beberapa kali ke sana, yang pertama pada tahun 1958, tetapi ada satu hal yang belum pernah saya lakukan—saya belum pernah naik perahu mengarungi sungai hingga tepat berhadapan dengan air terjun. Namun, orang-orang sudah melakukan hal ini sejak tamasya perahu Maid of the Mist diresmikan pada tahun 1848. Jutaan orang telah mengadakan perjalanan yang mengasyikkan ini. Sekarang, giliran saya.
Secara rutin, perahu-perahu berangkat dari kedua sisi sungai, sisi Amerika maupun sisi Kanada. Selalu ada antrean. Kami dapat melihat orang-orang dari semua kelompok umur, bahkan anak-anak kecil, mengenakan jas hujan plastik ringan berwarna biru, yang berguna untuk melindungi pengunjung dari cipratan air. (Bagi orang-orang yang mengunjungi Air Terjun Amerika, jas hujannya berwarna kuning.) Perahu Maid of the Mist VII dapat mengangkut hingga 582 penumpang. Perahu ini beratnya 145 ton dengan panjang 24 meter dan lebar 9 meter. Sekarang ini, ada empat kapal yang
beroperasi,Maid of the Mist IV, V, VI, dan VII.

Kami mengantre bersama banyak pengunjung lainnya, dan segera setelah Maid of the Mist VII menurunkan para pengunjung yang sudah kebasahan, kami semua masuk. Saya tahu bahwa kami akan segera menikmati suatu perjalanan yang mengasyikkan. Di kejauhan, kira-kira satu kilometer, air terjun bergemuruh jatuh dari ketinggian 52 meter ke lembah di bawahnya sedalam 55 meter. Perahu berangkat mengarungi sungai dan berlayar ke sisi Amerika melewati air yang berpusar-pusar di kaki Air Terjun Amerika, yang tinggi totalnya 54 meter.* Bagian yang paling mengasyikkan masih akan muncul.
Rasanya bertambah tegang saja seraya kami semakin dekat dengan air terjun itu. Sekarang, sulit untuk mengambil foto karena angin terlalu kencang dan cipratan air terlalu besar. Perahu terasa bergerak lambat sekali seraya sang nakhoda mendekatkannya ke titik air terjun, tempat lebih dari 168.000 meter kubik air per menit jatuh dan menghunjam tepat di depan perahu kami! Suaranya dahsyat. Anda tidak akan bisa mendengar teriakan Anda sendiri. Jantung saya berdebar kencang. Saya dapat mengecap air Niagara, rasanya dingin tetapi tampaknya murni. Benar-benar pengalaman yang tak terlupakan!
Meskipun rasanya lama sekali, akhirnya sang nakhoda dengan perlahan menjauhkan perahu dari garis bahaya dan berlayar ke hilir. Lega rasanya. Selesai sudah. Namun, sebenarnya, tidak ada yang perlu ditakutkan. Perusahaan yang mengoperasikan kapal-kapal ini memiliki rekor bebas kecelakaan. Emil Bende, direktur utama perusahaan perahu uap ini, meyakinkan kami bahwa setiap perahu diperlengkapi dengan pelampung dan sekoci yang memadai bagi penumpang dalam kapasitas maksimum. Tidak bakal ada kasus Titanic di sini!
Air Terjun ini Semakin Mundur!
Ya, erosi telah merusak air terjun ini. Diperkirakan bahwa selama 12.000 tahun terakhir, air terjun Niagara telah mundur sekitar 11 kilometer, hingga ke lokasinya yang sekarang. Tingkat erosinya pernah sekitar semeter per tahun. Sekarang, sudah menurun, sekitar 36 sentimeter per sepuluh tahun. Apa penyebab erosi ini?
Air mengalir di atas lapisan batu kapur dolomit keras yang terletak di atas lapisan batu pasir dan batu shale yang lunak. Lapisan bawah ini terkikis, sehingga batu kapur jatuh ke lembah di bawahnya.
Airnya Dimanfaatkan
Air dalam jumlah besar yang mengalir di Sungai Niagara yang pendek (56 kilometer) berasal dari empat di antara lima Danau Besar. Sungai ini mengalir ke arah utara dari Danau Erie ke Danau Ontario. Di tengah alirannya, sungai ini dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik tenaga air, yang digunakan bersama-sama oleh Kanada dan Amerika Serikat. Konon, pembangkit ini merupakan salah satu sumber listrik tenaga air terbesar di dunia. Pembangkit listrik Kanada dan AS ini berkapasitas 4.200.000 kilowatt. Air untuk turbinnya diambil dari Sungai Niagara di bagian sebelum airnya terjun.
Bulan Madu dan Cahaya di Malam Hari
Air terjun Niagara merupakan lokasi favorit bagi pasangan yang berbulan madu, apalagi setelah penayangan film Niagara pada tahun 1953. Pada malam hari, air terjun ini diterangi lampu sorot berwarna, yang memberi dimensi lain kepada keindahan dan keagungan lokasi yang unik di planet kita ini. Tentu saja, kunjungan ke Kanada dan Amerika Serikat tidaklah lengkap tanpa kunjungan ke keajaiban dunia ini. Dan, jika Anda gemar berpetualang, jangan lupa naik perahu! Anda tidak akan menyesalinya ataupun melupakannya.—Disumbangkan.
[Catatan Kaki]
”Di Air Terjun Amerika, air jatuh secara vertikal dengan tinggi berkisar antara 21 hingga 34 meter ke bebatuan di dasar air terjun.”—Taman Niagara Ontario.
[Kotak/Gambar di hlm. 26]
KERETA GANTUNG SPANYOL NIAGARA

Empat setengah kilometer di bawah air terjun terdapat pusaran air besar ”yang terbentuk di ujung Rapids (Jeram), tempat Great Gorge (Ngarai Besar) berbelok tajam ke arah timur laut. Di sinilah vorteks besar berwarna hijau zamrud berpusar-pusar untuk keluar lewat kanal tersempit di Ngarai itu”.—Taman Niagara Ontario.
Cara terbaik untuk melihat keseluruhan pusaran air yang luar biasa ini adalah dengan menggunakan Kereta Gantung Spanyol Niagara, yang menyeberangi pusaran air itu dan menghadirkan pemandangan sungai yang mengesankan, baik ke arah hulu maupun hilir. Namun, mengapa kendaraan ini disebut Kereta Gantung ”Spanyol”? Kereta gantung ini dirancang dan dibuat oleh seorang insinyur Spanyol yang cemerlang, Leonardo Torres Quevedo (1852-1936), dan telah digunakan sejak tahun 1916. Kereta gantung jenis ini cuma ada di Niagara.

Megatsunami

Megatsunami adalah tsunami yang mencapai ketinggian lebih dari 100 meter. Selain beberapa tsunami besar di Alaska yang mencapai tinggi 520 meter, megatsunami terakhir yang melanda wilayah berpenduduk diduga terjadi sekitar 4000 tahun yang lalu. Menurut para ahli geologi, megatsunami biasanya disebabkan oleh tanah longsor yang sangat besar, seperti runtuhnya sebuah pulau, ke laut atau samudra, letusan gunung berapi seperti contohnya letusan Gunung Krakatau, atau tumbukan sebuah meteor besar.
Megatsunami dapat naik hingga ratusan meter, dengan kecepatan 890 kilometer per jam, dan dapat menerjang daratan hingga sejauh 20 km.
Di tengah lautan dalam, megatsunami hampir tidak dapat dirasakan. Permukaan laut hanya naik vertikal sekitar satu meter, dengan wilayah yang sangat luas, hingga ratusan kilometer. Saat tsunami mencapai laut dangkal, gelombangnya hanya terlihat sekitar 30 cm. Namun, ketika mencapai daratan, gelombang tsunami meninggi secara drastis.
Tsunami di Banda Aceh hampir dapat dikategorikan megatsunami karena jumlah korban jiwa yang sangat besar (200.000 orang) dan mencapai negara-negara tetangga seperti:MalaysiaThailandIndiaSri Lanka dan Bangladesh.
Gempa bumi bawah laut umumnya tidak menghasilkan tsunami yang sedemikian besar, kecuali jika gempa ini juga menghasilkan longsor bawah laut.

Megatsunami dalam sejarah

  • Megatsunami tahun 1792. Letusan gunung Aso di Jepang menyebabkan bagian gunungnya jatuh ke laut. Menyebabkan tsunami setinggi 100 meter.
  • Megatsunami tahun 1958. Longsor besar menyebabkan tsunami setinggi 524 meter di teluk Lituya. Tsunami tertinggi dalam sejarah manusia.
  • Megatsunami tahun 1963. Longsor diatas bendungan Vajont menyebabkan tsunami setinggi 250 meter dan membunuh sekitar 2000 orang.
  • Megatsunami tahun 1980. Letusan gunung St. Helens di Amerika Serikat, menyebabkan longsor. Lalu membuat Tsunami setinggi 260 meter.

Megatsunami prasejarah

  • 65 juta tahun yang lalu. Saat tumbukan meteorit yang membentuk kawah Chicxulub, menyebabkan tsunami setinggi 3 kilometer. Cukup tinggi untuk menenggelamkan pulau seperti Madagascar. Tsunami tertinggi dalam sejarah, dan juga dijuluki "Ibu dari semua Tsunami".
  • 35 juta tahun yang lalu. Tumbukan meteorit di teluk Chesepeake, mungkin menyebabkan megatsunami yang berulang- ulang.
Selain itu megatsunami tertinggi juga terjadi di sekitar British Columbia, gunung Etna di Sisilia, di laut Norwegia, di kepulauan Réunion di sebelah timur Madagascar, dan dikepulauan Hawaii.

Potensi ancaman megatsunami

  • Tenggelamnya suatu pulau yang terkena imbas tsunami
  • Korban jiwa yang sangat besar
  • Kerugian harta benda yang besar
  • Punahnya kehidupan

Bacaan lebih lanjut

  • BBC 2 TV; 2000. Transcript "Mega-tsunami; Wave of Destruction", Horizon. First screened 21.30 hrs, Thursday, 12 October 2000.
  • Carracedo, J.C. (1994). "The Canary Islands: an example of structural control on the growth of large oceanic-island volcanoes". J. Volcanol. Geotherm Res. 60 (3–4): 225–241. Bibcode:1994JVGR...60..225C. doi:10.1016/0377-0273(94)90053-1.
  • Carracedo, J.C. (1996). "A simple model for the genesis of large gravitational landslide hazards in the Canary Islands". Di McGuire, W; Jones; Neuberg, J.P. Volcano Instability on the Earth and Other Planets. Special Publication 110. London: Geological Society. pp. 125–135.
  • Carracedo, J.C. (1999). "Growth, Structure, Instability and Collapse of Canarian Volcanoes and Comparisons with Hawaiian Volcanoes". J. Volcanol. Geotherm. Res. 94: 1–19. Bibcode:1999JVGR...94....1C. doi:10.1016/S0377-0273(99)00095-5.
  • Day, S.J.; Carracedo, J.C.; Guillou, H.; Gravestock, P. (1999). "Recent structural evolution of the Cumbre Vieja volcano, La Palma, Canary Islands: volcanic rift zone re-configuration as a precursor to flank instability" (PDF)J. Volcanol. Geotherm. Res. 94: 135–167. Bibcode:1999JVGR...94..135D. doi:10.1016/S0377-0273(99)00101-8.
  • Moore, J.G. (1964). "Giant Submarine Landslides on the Hawaiian Ridge". US Geologic Survey. pp. D95–8. Professional Paper 501-D.
  • Pararas-Carayannis, G. (2002). "Evaluation of the Threat of Mega Tsumami Generation from Postulated Massive Slope Failure of Island Stratovolcanoes on La Palma, Canary Islands, and on The Island of Hawaii, George". Science of Tsunami Hazards 20 (5): 251–277.
  • Pinter, N.; Ishman, S.E. (2008). "Impacts, mega-tsunami, and other extraordinary claims" (PDF)GSA Today 18 (1): 37–38. doi:10.1130/GSAT01801GW.1.
  • Rihm, R; Krastel, S. & CD109 Shipboard Scientific Party; 1998. Volcanoes and landslides in the Canaries. National Environment Research Council News. Summer, 16–17.
  • Siebert, L. (1984). "Large volcanic debris avalanches: characteristics of source areas, deposits and associated eruptions". J. Volcanol. Geotherm Res. 22 (3–4): 163–197.Bibcode:1984JVGR...22..163S. doi:10.1016/0377-0273(84)90002-7.
  • Vallely, G.A. (2005). "Volcanic edifice instability and tsunami generation: Montaña Teide, Tenerife, Canary Islands (Spain)". Journal of the Open University Geological Society26 (1): 53–64.
  • Voight, B.; Janda, R.; Glicken, H.; Douglas, P.M. (1983). "Nature and mechanics of the Mount St Helens rockslide-avalanche of 18 May 190". Géotechnique 33 (10): 243–273.doi:10.1680/geot.1983.33.3.243.
  • Ward, S.N.; Day, S. (2001). "Cumbre Vieja Volcano — Potential collapse and tsunami at La Palma, Canary Islands" (PDF)Geophysical Research Letters 28 (17): 3397–3400. Bibcode:2001GeoRL..28.3397W. doi:10.1029/2001GL013110.
  • Sandom, J.G., 2010, The Wave — A John Decker Thriller, Cornucopia Press, 2010. A thriller in which a megatsunami is intentionally created when a terrorist detonates a nuclear bomb on La Palma in the Canary Islands.
  • Bonelli Rubio, J.M., 1950. Contribucion al estudio de la erupcion del Nambroque o San Juan. Madrid: Inst. Geografico y Catastral, 25 pp.
  • Ortiz, J.R., Bonelli Rubio, J.M., 1951. La erupción del Nambroque (junio-agosto de 1949). Madrid: Talleres del Instituto Geográfico y Catastral, 100 p., 1h. pleg.;23 cm

Pranala luar

  • Mega Tsunami: history, causes, effects
  • Mader, Charles L. Mega-Tsunamis Description of the Lituya Bay event.
  • World's Biggest Tsunami: The largest recorded tsunami with a wave 1720 feet tall in Lituya Bay, Alaska.
  • Benfield Hazard Research Centre
  • Science of Tsunami Hazards A more skeptical view from The Tsunami Society.
  • BBC — Mega-tsunami: Wave of Destruction BBC Two program broadcast 12 October 2000
  • La Palma threat "over-hyped", BBC News, 29 October 2004
  • Mega-hyped Tsunami story A detailed of analysis demolishing the La Palma Tsunami speculat

Titanoboa, Ular Terbesar Di Dunia

http://i41.photobucket.com/albums/e292/maruquitas/0855525p.jpg

Beberapa ilmuwan di Kolombia telah menemukan fosil monster prasejarah yang diduga sebagai ular terbesar di dunia yang pernah hidup di bumi. Ular yang diberi nama Titanoboa cerrejonensis itu diperkirakan memiliki berat lebih dari 1 ton dan panjang hingga hampir 14 meter.
Beberapa ilmuwan yakin ular ini hidup di bumi sekitar 58 juta hingga 60 juta tahun lalu. Ahli geologi, David Polly, yang memperkirakan ukuran dan bobot Titanoboa berdasarkan posisi fosilnya.

"Ukuran ular itu sungguh besar sekali. Namun, tim peneliti masih memikirkan seberapa besar panas bumi dibutuhkan untuk menghangatkan tubuh ular sebesar itu."

Fosil Titanoboa ditemukan oleh tim ilmuwan internasional di sebuah tambang batu bara di wilayah tropis Cerrejon, Kolombia. "Ular yang sangat besar ini benar-benar mengundang imajinasi, tetapi fakta yang ada telah melampaui fantasi yang ada di Hollywood sekalipun," kata ahli paleontologi, Jonathan Bloch, yang juga terlibat dalam ekspedisi.


 http://i41.photobucket.com/albums/e292/maruquitas/Titanoboa_cerrejonensis_cientificos.jpg

"Ular yang mencoba mencaplok Jennifer Lopez di film Anaconda tidak sebesar ular yang kami temukan," kata Bloch. Berdasarkan ukuran ular itu, Bloch menjelaskan, tim ilmuwan dapat menghitung temperatur tahunan rata-rata di garis khatulistiwa Amerika Selatan 60 juta tahun lalu mencapai sekitar 33 derajat celcius, sekitar 10 derajat lebih hangat dibandingkan saat ini.

"Ekosistem tropis Amerika Latin saat ini berbeda jauh dibandingkan 60 juta tahun lalu," kata Bloch. "Kondisi hutan tropisnya hampir sama dengan saat ini, tetapi temperaturnya lebih panas saat itu dan dipenuhi dengan reptil berdarah dingin yang lebih besar."

Menurut Nature.com, ular adalah jenis hewan poikilotherms (berdarah dingin) yang memerlukan panas dari lingkungan mereka merayap untuk membangkitkan metabolisme. Oleh karena itu, ilmuwan memperkirakan ular raksasa itu hidup di ekosistem tropis Amerika Selatan dengan temperatur yang saat itu tidak berada di bawah 30 hingga 34 derajat celcius.

Sebagian besar populasi ular saat ini terdapat di wilayah tropis Amerika Selatan dan Asia Tenggara. Temperatur di Amerika Selatan dan Asia tenggara memungkinkan hewan ini berkembang hingga mencapai ukuran besar.
Anda kemungkinan dapat membayangkan Yeti, bahkan jika anda belum pernah mengunjungi Himalaya.
Dalam kebudayaan populer, Yeti berbentuk manusia kera berbulu dan berukuran besar, dengan kaki yang sama besarnya dan gigi setajam pedang.
Bulunya berwarna abu-abu atau putih. Yeti seringkali digambarkan menjelajah pegunungan salju sendirian.
Apakah ada sesuatu di balik tokoh dongeng ini, lebih dari mitos dan imajinasi?
Dalam beberapa tahun terakhir genetika modern digunakan dalam meneliti Yeti Himalaya. Sebagai hasilnya, sekarang kemungkinan kita dapat memecahkan misterinya.
yeti
Image captionPegunungan Himalaya yang jauh di atas permukaan laut, sepi dan dingin.
Yeti adalah salah satu "manusia-kera". Di tempat lain di dunia, orang membicarakan dongeng Bigfoot atau Sasquatch.
Bentuk Yeti asalnya dari cerita rakyat. Karakternya adalah bagian kuno yang penting dari legenda dan sejarah Sherpa, masyarakat yang tinggal pada ketinggian rata-rata 12.000 kaki di Nepal timur.
Shiva Dhakal mengumpulkan 12 cerita tradisional dalam bukunya Folk Tales of Sherpa and Yeti, yang di dalam ceritanya, binatang ini selalu merupakan makhluk berbahaya.
Sebagai contohnya, "The Annihilation of the Yeti" adalah tentang Sherpa yang membalas dendam terhadap sekelompok Yeti yang suka menyerang.
Mereka minum alkohol dan berkelahi di depan Yeti agar mereka menirunya dan saling menyerang.
Yang terjadi justru sebaliknya, Yeti yang selamat menyatakan akan balas dendam dan pindah ke puncak gunung serta melanjutkan hidupnya.
Cerita ini memenuhi salah satu tujuan utama cerita rakyat: memberikan pelajaran moral. Terutama memperingatkan masyarakat Sherpa tentang binatang liar yang berbahaya.
"Mungkin, cerita rakyat Yeti digunakan untuk memperingatkan atau kemungkinan terkait moralitas, agar anak-anak tidak pergi jauh dan mereka tetap aman di dalam masyarakatnya," kata Dhakal.
yeti
Image captionKulit kepala dan tangan 'Yeti'.
Tetapi ketika pendaki gubung Barat mulai mengunjungi Himalaya, mitos ini berubah menjadi sesuatu yang lebih besar dan sensasional.
Pada tahun 1921, penjelajah dan politikus Charles Howard-Bury memimpin ekspedisi Inggris ke Puncak Everest.
Dia melihat jejak kaki besar dan diberitahu hal itu berasal dari "metoh-kangmi" atau "manusia salju beruang jantan".
Ketika ekspedisi kembali, seorang wartawan mewawancara beberapa anggotanya.
Sayangnya, Henry Newman bukanlah wartawan yang baik saat melaporkannya. Dia menerjemahkan "metoh" menjadi "kotor", dan kemudian memutuskan "mengerikan" kata yang lebih baik.
Saat itulah sebuah legenda lahir. Kesaksian penduduk setempat terus menerus diterjemahkan pengunjung Barat dan cerita manusia salju mirip kera berkembang.
Pada tahun 1950an, perhatian begitu tinggi. Sejumlah pendaki melakukan ekspedisi untuk mencari mahluk itu.
Bahkan bintang film Hollywood, James Stewart, juga terpengaruh, dengan menyimpan 'jari Yeti'.
yeti
Image captionPatung 'jejak kaki Yeti' dari Bhutan.
Di tahun 2011, tes DNA membuktikan benda itu adalah jari manusia.
Sejak saat itu, terdapat jejak kaki di salju, film amatir, foto kabur dan kesaksian pendaki gunung.
Tengkorak yang diduga Yeti ditemukan, disamping bagian tulang dan rambut. Tetapi setelah diperiksa, benda-benda ini milik binatang liar lainnya seperti beruang, antelop dan kera.
Meskipun tidak terdapat bukti nyata, orang masih mencari Yeti di Himalaya. Yeti adalah contoh cryptozoology: pencarian mahluk yang tidak bisa disebut ada karena kurang bukti.
Pendaki gunung Reinhold Messner kemungkinan adalah pemburu Yeti yang paling terkenal.
Dia menyatakan telah melihat satu Yeti di Himalaya pada tahun 1980an dan mengunjungi tempat itu berkali-kali untuk mengungkap misteri.
yeti
Image captionHimalaya yang dikenal sebagai Negara Yeti.
Teori Messner untuk menjelaskan semua kesaksian adalah sederhana: Yeti adalah seekor beruang.
Messner mengatakan legenda Yeti adalah campuran spesies beruang sebenarnya dan dongeng Sherpa tentang bahaya binatang liar.
"Semua jejak kaki Yeti adalah dari beruang yang sama," kata Messner. "Yeti adalah tokoh yang menakjubkan. Yeti adalah nyata."
Dia menolak pemikiran Yeti adalah manusia-kera, seperti yang dikatakan Howard-Bury dan Newman.
"Orang tidak menyukai realita, mereka menyenangi cerita-cerita gila," katanya. "Mereka suka jika Yeti mirip Neanderthal, Yeti campuran manusia dan kera."
yeti
Image captionBeruang salju (Ursus maritimus) adalah pemangsa darat berukuran besar.
Di tahun 2014, pandangan Messner mendapatkan dukungan yang tidak terduga: genetika.
Bryan Sykes, yang sebelumnya adalah profesor genetika Universitas Oxford di Inggris, memutuskan untuk melakukan sejumlah tes terhadap 'Yeti'.
Bersama timnya, dia menganalisa contoh rambut dari primata yang diduga Yeti, sebagian berasal dari Messner.
Mereka kemudian membandingkan DNA Yeti dengan genom binatang lainnya.
Tim menemukan dua sampel Himalaya - satu dari Ladakh, India dan yang lainnya dari Bhutan - secara genetis sangat mirip dengan beruang salju yang hidup 40.000 tahun lalu.
Hal ini mengisyaratkan Himalaya adalah tempat tinggal beruang yang belum diketahui, hibrida dari beruang salju kuno dan beruang coklat.
"Jika beruang ini tersebar luas di Himalaya, mereka kemungkinan menjadi dasar biologis legenda Yeti," tulis tim tersebut.
yeti
Image captionBeruang salju (Ursus maritimus) tidak ditemukan di Himalaya.
Meskipun demikian pernyataan ini kemudian dipertanyakan.
"Beruang salju di Himalaya sepertinya memang suatu hal yang sangat menarik," kata Ross Barnett dari Universitas Copenhagen Denmark.
Bekerja sama dengan Ceiridwen Edwards, saat itu dari Universitas Oxford, mereka memutuskan untuk melakukan tes ulang.
Sykes dan rekannya menempatkan semua data DNA pada pusat data umum GenBank. "Sangat mudah mengunduhnya," kata Barnett.
Mereka menemukan kesalahan besar. "Tidak terdapat kepastian kecocokan terhadap beruang salju Pleistocene seperti yang mereka katakan," kata Barnett.
"Kecocokannya pada beruang salju modern, dan kecocokan nyatanya hanya sekilas."
Hal ini mengisyaratkan kesimpulan yang tidak terlalu menarik. Tidak terdapat populasi rahasia beruang salju tinggal di Himalaya.
Barnett dan Edwards menyimpulkan terjadinya kerusakan pada DNA dari rambut.
yeti
Image captionBeruang salju (Ursus maritimus) cukup kuat menjadi Yeti.
Ini memang dapat saja terjadi. Rambut adalah sumber baik DNA kuno, karena keratin memang mengesampingkan air yang merusak dari DNA, tetapi rambut dapat berkurang mutunya.
"Saya pikir saya kecewa," kata Barnett. "Temuan tidak terduga adalah hal yang orang sukai. Kenyataan bahwa kami mematahkannya memang menyedihkan, tetapi pada akhirnya yang penting adalah mendapatkan kebenaran."
Kajian ini diulang lagi oleh Eliécer Gutiérrez dari Smithsonian Institution, Washington, D.C. dan Ronald Pineof dari Universitas Kansas di Lawrence.
Setelah membandingkan sekuen DNA, mereka menemukan "tidak ada alasan untuk meyakini" sampel dua 'Yeti' bukan dari beruang coklat.
Sykes dan timnya mengeluarkan pernyataan mengakui kesalahan mereka.
Meskipun demikian mereka juga menekankan "kesimpulan bahwa sampel 'Yeti' Himalaya ini jelas bukan dari primata yang tidak dikenal, tetap tidak terpengaruh." Dengan kata lain sampel tersebut tidak seperti manusia-kera.
yeti
Image captionTengkorak (Homo floresiensis, kiri) dan manusia.
Tetapi pemikiran mahluk mirip kera di pegunungan sekarang lebih dapat dipercaya dibandingkan beberapa puluh tahun lalu. Sekarang kita mengetahui populasihominid tidak bisa tersembunyi untuk waktu yang lama.
Contohnya Denisovans, spesies manusia punah yang diketahui keberadaannya dari sejumlah kerangkanya di sebuah gua di Siberia.
Hal tersebut baru ditemukan pada tahun 2008. Analisa genetika mengisyaratkan mahluk ini bertahan hidup selama ratusan ribu tahun, baru menjadi punah sekitar 40.000 tahun lalu.
Spesies yang sudah punah lainnya yang bisa bertahan sampai belum lama ini adalah 'hobbits' Homo floresiensis yang kemungkinan bertahan hidup di Indonesia sampai 12.000 tahun lalu.
Hal ini mengisyaratkan kemungkinan terdapat populasi lain yang perlu dikaji.
Lewat tulisan di jurnal Nature pada tahun 2004, tidak lama setelah hobbit ditemukan, Henry Gee menyatakan, "Temuan bahwa Homo floresiensis yang masih bertahan hidup sampai baru-baru ini, secara geologis, menimbulkan kemungkinan cerita mahluk mirip manusia seperti Yeti kemungkinan ada benarnya."
yeti
Image captionBeruang coklat (Ursus arctos) hidup di sebagian besar daerah Asia.
Jelas pemikiran ini ada dasarnya. Tetapi masalahnya, tetap tidak terdapat bukti yang kuat, dan jika populasi manusia-kera yang tidak dikenal memang ada, terdapat beberapa hal yang seharusnya kita ketahui.
Jika dapat berada di habitatnya, primata dan binatang besar lainnya mudah ditemukan, bahkan meskipun ini adalah jenis yang jarang ditemui.
"Jika ada yang melihat spesies primata yang benar-benar jarang, seperti bonobo dan orang-utan, buktinya ada dimana-mana dan sulit untuk terlewatkan," kata Barnett.
"Ada tempat-tempat di Himalaya dimana populasi kera besar secara teoritis dapat bertahan hidup," kata Vladimir Dinets dari Universitas Tennessee, Knoxville, yang bekerja di Himalaya.
"Tetapi di semua tempat ini terdapat manusia yang hidup disana, dan semua spesies mamalia yang lebih besar dari tikus secara teratur diburu dengan berbagai cara,"katanya.
yeti
Image captionMacaque Jepang (Macaca fuscata) perlu menghangatkan diri.
Binatang harus menjelajah pada wilayah yang luas untuk mendapatkan cukup makanan, yang berarti sulit bagi mereka untuk tetap tersembunyi.
Iklim juga menjadi masalah. Primata akan kesulitan hidup di cuaca Himalaya yang keras.
"Bahkan jika mereka sekuat macaque Jepang, primata yang paling tahan dingin, mereka tetap harus turun ke hutan suptropik saat musim dingin," kata Dinets.
"Hutan-hutan ini ada dalam bentuk kecil," kata Dinets. "Sebagian besar telah dijadikan pertanian sejak lama."
yeti
Image captionApakah beruang coklat (Ursus arctos) sebenarnya adalah Yeti?
Dan Yeti tetap saja muncul.
Pada tahun 2011, ekspedisi dan konferensi yang dipimpin Rusia menyatakan telah menemukan "bukti yang tidak bisa dipertanyakan" tentang keberadaan Yeti, termasuk ditemukannya sebuah tempat tidur.
Meskipun demikian, Dinets yang lahir di Rusia mengatakan itu hanya usaha untuk mencari perhatian tanpa bukti kuat.
"Selama sekitar 20 tahun, kunjungan musim panas ke pegunungan untuk mencari Yeti menjadi populer," kata Dinets.
"Satu-satunya hasil temuan adalah bahwa setiap desa di pegunungan Tajikistan dan Kyrgyzstan memiliki 'saksi Yeti' yang telah ditunjuk.
yeti
Image captionBeruang coklat dapat berdiri di atas dua kaki, sama seperti Yeti.
Tugas mereka adalah memberi tahu para pengunjung tentang dongeng itu, membawa mereka ke lembah terpencil di mana 'Yeti' terlihat, dan kemudian meminta wisatawan membayar jasa dalam jumlah besar."
Kesimpulannya, tidak terdapat bukti kuat tentang keberadaan primata yang tidak dikenal di Himalaya, dan banyak alasan untuk memperkirakan mahluk ini tidak ada.
Sepertinya bukti beruang salju di Himalaya tidak bisa dibuktikan. Beruang mungkin saja ada dalam legenda, tetapi kemungkinan dalam bentuk beruang coklat, yang memang banyak ditemukan di Asia.
Barnett meyakini penjelasan paling masuk akal tentang legenda Yeti adalah terjadinya salah interpretasi binatang seperti beruang coklat, bercampur dengan kecenderungan manusia menceritakan dongeng tentang binatang yang tidak dikenal.
Tetapi ini bukan berarti pencarian berakhir. "Kenyataan bahwa tidak pernah ada bukti apapun tidak menghentikan usaha pencarian," kata Barnett.
Selama kita menikmati legenda dan dongeng, kita tidak akan melupakan Yeti.
Berita ini bisa dibaca dalam bahasa Inggris dengan judul "Is the Himalayan Yeti a real animal